Fenomena Alam

MENGAPA LUMPUR PANAS MENYEMBUR? Selama lebih dari 50 hari belakangan ini, lumpur panas di bumi Kabupaten Sidoarjo menyembur dengan masifnya. Bagi masyarakat, fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar. Semburan Lumpur panas atau Mud Volcano di kabupaten Sidoarjo itu muncul pertama kali pada 29 Mei 2006 sekitar pukul 05:00. Tepatnya di areal persawahan Desa Siring, Kecamatan Porong. Jarak titik semburan sekitar 150 meter arah barat daya sumur Banjar Panji 1 milik Lapindo Brantas Inc. Sumur Banjar Panji 1 merupakan ekxplorasi vertical. Targetnya, mencapai FORMASI KUJUNG dengan kedalaman 10.300 kaki. Sampai dengan semburan atau Blow Out pertama, eksplorasi telah berjalan tiga bulan. Semburan Lumpur panas di Sidoarjo tidak muncul dengan sendirinya. Ada suatu kronologi di dalam sumur Banjar Panji 1 yang mendahuluinya. Berdasarkan laporan kronologi kejadian, pada tanggal 27 Mei 2006, pengeboran dilakukan dari kedalaman 9.277 kaki ke 9.283 kaki. Pukul 07.00-13.00 pengeboran dilanjutkan ke kedalaman 9.297 kaki. Pada kedalaman ini, sirkulasi Lumpur berat masuk kedalam lapisan tanah. Peristiwa ini disebut Loss. Lumpur berat ini digunakan sebagai semacam pelumas untuk melindungi mata bor sekaligus untuk menjaga tekanan hidrostatis dalam sumur agar stabil. Setelah terjadi loss, sebagai langkah standar disuntikkan Loss Circulating Material (LCM) atau material penyumbat kedalam sumur. Tujuannya agar sirkulasi kembali normal. Peristiwa loss yang lazim dalam pengeboran pada umumnya diikuti munculnya tekanan tinggi dari dalam sumur keatas atau disebut Kick. Untuk mengantisipasi kick, pipa ditarik keatas untuk memasukkan Casing sebagai pengamanan sumur. Sebagai catatan casing terakhir terpasang di kedalaman 3.580 kaki. Saat proses penarikan pipa hingga 4.241 kaki pada tanggal 28 Mei 2006 pukul 08.00-12.00, terjadilah kick. Kekuatannya 350 psi. Kemudian disuntikkanlah Lumpur berat ke dalam sumur. Ketika hendak ditarik lebih keatas, bor macet atau Stuck di 3.580 kaki. Upaya menggerakkan pipa ke atas, ke bawah, maupun merotasikannya gagal. Bahkan pipa tetap bergeming saat dilakukan penarikan sampai dengan kekuatan 200 ton. Upaya ini berlangsung mulai pukul 12.00-20.00. selanjutnya untuk mengamankan sumur, disuntikkan semen di area macetnya bor. Akibat macet, akhirnya diputuskan bor atau Pack Off dan Fish diputus dari rangkaian pipa dengan cara diledakkan (+/- 2.989 kaki). Pada 29 Mei 2006 pukul 05.00, terjadilah semburan gas berikut Lumpur ke permukaan. Secara kasatmata, material keluar tersebut berupa Lumpur berwarna abu-abu. Bila dipisahkan, secara umum material Lumpur terdiri atas air dan lempung. Volume Lumpur yang keluar rata-rata 50.000 meter kubik perhari. Pada seminggu belakangan, debitnya menurun. Menurut Gubernur Jawa Timur Imam Utomo pada saat jumpa pers di Hotel JW. Marriott, 8 Juli 2006, volumenya kini menjadi 30.000 meter kubik per hari. Tim Teknis Berdasarkan laporan tim teknis, Lumpur yang keluar ke permukaan bumi itu berasal dari FORMASI KALIBENG, kedalaman 1.700-6.100 kaki. Material Formasi Kalibeng berupa lempung padat. Adapun sumber air didominasi dari formasi dibawah Kalibeng, yakni di kedalaman 6.100 – 8.500 kaki. Perihal bagaimana Lumpur bisa menyembur keluar terdapat beberapa pendapat. Paling tidak terdapat dua versi besar. Pertama, semburan berhubungan dengan sumur Banjar Panji 1, sementara yang ke dua, sama sekali tidak behubungan atau karena factor alam. Ketua Tim Penghentian Lumpur dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini mengatakan, mekanisme keluarnya Lumpur tersebut berawal dari formasi di bawah Kalibeng. Formasi itu disebut Zona Unconsolidated Clay. Formasi ini memiliki tekanan hidrostatis dan tekanan pori. Kedua unsur ini akhirnya menghasilkan Over Pressure atau tekanan abnormal tinggi. Pada kondisi biasa, lanjut dosen Teknik Perminyakan ITB itu, zona ini aman karena terlindungi formasi di atasnya. Artinya, pengeboran di zona ini mempunyai potensi membuatkan jalan ke permukaan bagi tekanan tersebut. Pada kasus di Porong, menurut Rudi, yang mengalir dari zona unconsolidated clay dan masuk ke dalam sumur adalah air bertekanan tinggi. Air panas ini mengalir ke atas melalui sumur dan mendesak ke samping hingga memecahkan formasi. Akibatnya, air bertekanan tinggi tersebut mengalir ke atas melewati sekaligus menggerus Kalibeng. Oleh sebab itu, saat muncul dipermukaan, wujudnya adalah Lumpur. Ahli geologi perminyakan, Andang Bachtiar, menyatakan persoalan Lumpur panas pertama-tama muncul karena adanya ketidakstabilan atau peningkatan tekanan dalam formasi. Hal ini dipengaruhi kegiatan penambangan di sumur Banjar Panji 1. Menurut Andang, persoalan utama dipicu adanya kekeliruan dalam pemasangan selubung (casing implementation). “Menurut perkiraan saya, casing tidak kuat. Maka, ketika terjadi kick atau pada saat memompakan Killing Mud, formasi di sekitar casing pecah,” kata mantan Ketua Ikatan Asosiasi Geologi Indonesia (IAGI) itu. Killing Mud adalah Lumpur berat yang digunakan untuk mematikan kick. Kronologinya, menurut Andang, terjadi Underground Blow Out yang meretakkan formasi dibawah dan sekitar casing 13-3/8”. Pecahnya formasi lalu membuka jalan bagi gas bertekanan tinggi untuk masuk ke Kalibeng yang juga mempunyai tekanan hidrostatis tinggi. Tekanan tinggi yang menghantam Kalibeng membuat material formasi tersebut pecah menjadi Lumpur sekaligus tekanan di dalamnya menjadi tidak stabil. Akibatnya, tekanan tidak stabil ini mencari jalan ke permukaan. Di permukaan wujudnya tampak sebagai semburan Lumpur. Kemungkinan terburuk dari asumsi ini adalah mekanisme keluarnya ke permukaan, akhirnya berkembang menjadi mekanisme di dalam Kalibeng sendiri. Apabila demikian, maka skenario penghentian semburan dengan Snubbing Unit tidak akan berhasil. Soffian Hadi, anggota IAGI mengatakan, semburan Lumpur disebabkan faktor alam. Lumpur berasal dari gunung Lumpur di dalam lapisan tanah atau disebut Diapirik. Artinya, aliran Lumpur sama sekali terpisah dengan sumur Banjar Panji 1. Daerah Porong termasuk dalam zona tumbukan atau subduksi. Tumbukan lempeng erasia dan austroindia yang terjadi sepanjang tahun, pada akhir Mei, mengaktifkan patahan-patahan di sepanjang jalur zona tumbukan, termasuk di Porong. Akibatnya, tekanan dalam diapirik meningkat. Akhirnya Lumpur mencari rekahan dan akhirnya menyembur ke atas permukaan tanah. Director & Chief Operating Officer PT. Energi Mega Persada Tbk. Fais Shahab mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan gambaran penyebab semburan. PT. Energi Mega Persada`Tbk. Adalah induk perusahaan Lapindo Brantas Inc. “Saat ini kami masih berkonsentrasi menghentikan semburan dan menangani dampak sosial,” katanya. Akan tetapi, Fais yakin, persoalan tersebut disebabkan lebih dari satu faktor. Di dalamnya, terdapat faktor teknologi, manusia dan alam. Fenomena semburan Lumpur panas atau Mud Volcano sebelumnya pernah terjadi di beberapa lokasi di Pulau Jawa. Di antaranya di Sangiran dan Bledung Kuwu, Grobogan. Akan tetapi, yang membedakannya dengan yang ada di Porong adalah mud Volcano Sangiran dan Bledug Kuwu terjadi secara alami. (Laksamana Agung Saputra/KOMPAS/Senin 24 juli 2006/darmawan92@yahoo.com)

0 comments:

...disinilah wadah tulisan/kumpulan bersama teman senasibku, seperjuanganku merasakan awal mula yang berbeda menjadi suatu kebersamaan, ...belajar dari perbedaan, pergaulan dan pengalaman semua ada disini.....

Tentang-Ku

Foto saya
empat dari lima saudaraku......... serui kota kelahiranku.............. gemolong kota kecilku.............. solo kota kenanganku.............. jogja kota jantungku............... wisata kuli keseharianku........... (maaf, bukan kuliner yach...)
<a href="http://www.clock4blog.eu">calendar widget for blog</a>
free counters
ShoutMix chat widget